Masa Mendatang, Istri Perlu Suami Abad 21

Setiap April, kita selalu diingatkan dengan semangat perjuangan RA Kartini. Walaupun telah lebih dari satu abad perjuangan untuk kesetaraan wanita ini, tampaknya hingga saat ini masih banyak wanita belum tampil sejajar dengan pria. Apalagi jika dikaitkan dengan perjuangan di bidang politik, sangatlah minim jumlah wanita yang tertarik untuk ikut di dalamnya. Mereka masih terkungkung dengan tugas-tugas domestik. Begitu ungkap Wakil Ketua DPRD Propinsi Bali periode 1997 – 1999, Putu Ayu Nantri, S.H. Wanita yang bersemangat bicara soal politik ini juga mengungkapkan secara gamblang pengalamannya tujuh tahun duduk di legislatif. Ia prihatin dengan demo yang sebenarnya salah sasaran. Lalu bagaimana perjalanan hidup ibu empat anak yang masih aktif mengajar di fakultas hukum universitas Udayana ini? Berikut petikan wawancara Bali Post dengan Putu Ayu Nantri, S.H.

MENGAPA Anda antusias terjun di dunia politik?
Waktu itu saya dari jalur Korpri atau jalur B masuk di DPRD. Saat itu PNS bisa ikut dalam kegiatan organisasi sosial politik. Setiap posisi atau pekerjaan ada tanggung jawab, suka dan duka. Itu yang kita pakai sebagai pengalaman. Kepuasan saat menjabat sebagai anggota DPR adalah jika dapat segera menindaklanjuti permasalahan yang disampaikan ke Dewan.

Masalah apa yang bisa diselesaikan Dewan saat itu?
Sebenarnya fungsi Dewan kan tidak menyelesaikan permasalahan. Karena kedudukan Dewan sebagai pengawas, mediator dan pembentuk peraturan daerah. Terus terang, dalam kasus-kasus yang disampaikan ke Dewan seringkali tidak memuaskan masyarakat karena kedudukan kami bukan sebagai penentu. Tetapi setidak-tidaknya kami tetap menindaklanjuti dan menyampaikan aspirasi yang berkembang. Kasus yang pernah kami tangani misalnya pembatalan rencana relokasi Patal Tohpati ke Jawa Timur. Sementara itu masalah yang tidak terselesaikan hingga saat ini adalah masalah BPR Ratnadi yang dilikuidasi. Walaupun masalah itu tidak tuntas hingga sekarang, kami juga ada kebanggaan karena bisa membentuk tim khusus untuk mempertemukan antara nasabah dan pemilik bank. Sebelumnya para nasabah susah untuk bertemu dengan pemilik bank. Soal realisasi secara teknis karena bukan tugas DPR tetapi tugas Bank Indonesia (BI). Nah, di sinilah kemacetannya.

Harapan masyarakat terlalu besar pada anggota Dewan, jika lambat ditangani banyak hujatan dilayangkan, bagaimana perasaan Anda?

Perasaan kami tidak enak. Namun kami tidak bisa menyalahkan masyarakat karena dia tidak tahu apa tugas Dewan, sehingga Dewan dianggap mampu menyelesaikan segalanya. Padahal sebenarnya kunci yang dapat melakukan secara operasional atau teknis itu bukan Dewan. Yang memegang kendali pembangunan adalah eksekutif. Apalagi posisi waktu itu UU No. 5 tahun 74 pemerintah daerah adalah DPR bersama Gubernur. Jadi posisinya bisa dibaca. Beda dengan sekarang, Dewan memiliki kewenangan yang lebih besar. Hal itu yang tidak diketahui masyarakat.

Banyak anggapan anggota Dewan lamban mengadopsi permasalahan masyarakat, bagaimana komentar Anda?
Saya menganggap pandangan itu wajar terjadi. Memang dituntut dalam hal ini bahwa Dewan harus banyak turun ke bawah atau ke lapangan sehingga bisa melihat kenyataan yang berkembang. Walaupun barangkali Dewan tidak mampu sepenuhnya menyelesaikan, tetapi pendapat saya setidak-tidaknya segalanya harus kita carikan way out-nya. Begitu ada permasalahan, maka kita tindaklanjuti dengan dengar pendapat. Kadang-kadang inilah permasalahannya, tidak dapat hasil yang memuaskan. Di samping itu, terus terang, pandangan waktu itu eksekutif sangat kuat. Kemudian eksekutif mengaggap bahwa Dewan itu urusannya hanyalah politik. Ia lembaga politik. Hal yang dianggap teknis operasional bukan merupakan kewenangan Dewan. Sehingga saya sering jengkel, ngedumel, sering ada istilah tetek bengek. Tetek-nya di eksekutif, bengek-nya di Dewan, demonya di Dewan. Itu kejadian yang kami alami dan rasakan.

Banyak anggota Dewan yang malas meng-”up date” pengetahuan, minimal untuk dirinya sendiri, apa pendapat Anda? Masalahnya banyak tergantung pada pribadi-pribadi yang bersangkutan, sejauh mana tanggung jawabnya terhadap fungsinya sebagai anggota Dewan. Karena tugas kita, kalau mau betul-betul berfungsi, tidak ada hari untuk kita santai-santai. Tiap pembahasan Ranperda, misalnya, waktunya singkat. Misalnya sekarang Ranperda masuk, tiga hari sudah dilakukan pandangan umum. Dari sana kan kita seharusnya sudah punya bahan dan memberikan bahan bagaimana pandangan kita pada Ranperda. Dalam satu bulan harus diambil keputusan. Menurut saya, setiap permasalahan harus selalu dilakukan dengar pendapat dengan masyarakat. Kita kan itu yang kurang, misalnya karena masalah waktu terlalu singkat sehingga banyak Ranperda yang tidak sempat dicarikan masukan dari masyarakat. Saya sebagai dosen, secara teori untuk membuat suatu peraturan harus memenuhi syarat yuridis, sosiologis dan filosofis. Menurut saya yang paling berat adalah aspek sosiologis ini. Pada waktu itu saya berusaha selaku Ketua Fraksi Karya Pembangunan membuat terobosan untuk melakukan dengar pendapat. Padahal lazimnya komisi di Dewan yang seharusnya melakukan itu, karena komisi itu memang dibagi atas bidang-bidang pekerjaan tertentu atau teknis. Tetapi waktu itu saya lewat fraksi melakukan dengar pendapat, contohnya tentang bus kampus. Kami mengadakan dengar pendapat dengan Rektor, LLAJ dan pihak terkait.

***

Anda memiliki empat putra-putri. Sebagai wanita bekerja tentu agak berat, bagaimana Anda mengaturnya?
Tujuan perkawinan kan melanjutkan keturunan. Itulah yang lebih utama dibandingkan yang lain. Jadi, waktu itu saya dengan suami supaya tidak menghilangkan Ketut, kalau hanya dua kan Ketut-nya hilang. Ini memang tergantung tekad kita bagaimana menyelesaikan dan membagi waktu sebaik-baiknya. Selain itu saya dibantu ibu saya dan satu pembantu yang mengawasi anak-anak. Ibu saya terutama yang mengawasi anak-anak.

Mengapa Anda memilih bidang hukum, apa menariknya?
Saya tidak tahu persis mengapa masuk ke Fakultas Hukum. Dulu saya inginnya jadi hakim. Tetapi saya bersyukur juga tidak jadi, karena kalau jadi hakim saya kan mikir masalah orang saja. Jadi saya akan memikirkan masalah orang dan orang tidak akan pernah merasa puas, ada yang kalah dan ada yang menang. Itu kan tidak memuaskan banyak pihak. Jadi saya bersyukur memilih profesi sebagai dosen. Sebagai dosen saya ikut membangun sumber daya manusia. Jadi saya lebih bisa menularkan ilmu untuk generasi berikutnya.

Siapa yang menginspirasi Anda memilih bidang hukum?
Kebetulan sepupu saya kuliah di Fakultas Hukum Universitas Airlangga. Ia sangat dibanggakan oleh keluarga saya. Ia mantan wakil Jaksa Agung, Suandha, S.H., yang menjadi panutan saya, yang memberikan inspirasi untuk maju. Saya masuk Fakultas Hukum, semuanya timbul dari diri saya, bukan keluarga. Keluarga hanyalah men-support. Ibu saya berdagang, jadi dari segi pembiayaan kuliah saya sangat berat. Namun beliau berusaha untuk bisa memenuhi keinginan saya. Akhirnya saya bisa melanjutkan sekolah. Padahal keluarga saya meminta agar saya tidak melanjutkan sekolah dan bekerja saja. Pada zaman itu SPP tidak begitu mahal, hanya Rp 6.000.

Banyak wanita beranggapan bahwa mereka ingin maju dengan mengalahkan pria, apa komentar Anda?
Saya kira salah kalau konsep mengalahkan pria. Saya cenderung pada kesetaraan, bukan mengalahkan. Bagaimana kita menyadarkan pria agar memberikan tempat pada wanita yang memiliki potensi yang sama. Kenapa ia tidak diberi kesempatan. Ibu saya sendiri mengalami bahwa yang diupayakan mengikuti pendidikan adalah saudaranya yang laki-laki. Seringkali beliau menyesal. Saya kasihan melihatnya. Sering beliau mengeluh tidak diberikan kesempatan, itu yang mendorong saya untuk terus melanjutkan pendidikan.

Bagaimana dengan mahasiswi Anda di Fakultas Hukum, apakah mereka memiliki kemampuan yang sama dengan para pria?

Wanita kadang-kadang memiliki kemampuan yang lebih, mengapa, karena wanita lebih tekun. Ia sedikit bersantai soal belajar. Ia lebih serius dan tekun belajar sehingga hasilnya lebih baik.

Kalau wanita terlalu mandiri dan tidak peduli dengan pria?
Saya tidak sependapat dengan hal itu. Dalam hal kesetaraan, tetap tidak boleh melepaskan peranan sebagai ibu, melepaskan tugas sebagai istri. Urusan rumah tangga harus saling toleransi. Bukan karena wanita punya jabatan lebih tinggi, lantas ia yang mengendalikan atau menentukan. Saya kira pikiran ini yang harus kita luruskan. Jadi sama-sama saling mendukung. Istri sebagai pendamping, suami demikian pula. Di masa mendatang, istri perlu suami abad 21. Jangan wanita saja yang harus mengikuti, dididik atau dimacam-macam untuk menghadapi perkembangan zaman.

Kenapa suami tidak? Jadi harus siap menghadapi perkembangan yang dialami oleh wanita itu. Selama tugas-tugas yang tidak bersifat kodrat, harus saling membantu. Yang bersifat kodrat itu kan melahirkan, menyusui, hamil, peran lain kan tidak. Jadi kenapa tidak saling membantu? Jika istri sibuk sebagai wanita bekerja, misalnya, suami harus bisa menyiapkan mental. Kan kalau suaminya menjadi pejabat, contohnya, istrinya juga harus siap mental dan tahu tugas, bukan mencampuri urusan suami. Misalnya pak Taufik Kiemas mendampingi ibu Megawati dalam beberapa kegiatan, itu kan bukan berarti merendahkan?

Apa filosofi hidup Anda?
Saya lakoni apa yang saya terima karena semuanya sudah diberikan oleh Tuhan Yang Maha Kuasa dalam kehidupan saya. Saya menerima apa adanya. Misalnya saya dari Dewan harus kembali ke kampus, kan tidak harus frustrasi. Saya harus menekuni profesi saya. Saya berusaha mengisi diri jangan sampai kalah dengan yang lain. Selama diri saya mampu, saya akan terus beraktivitas. Saya pernah merasa post power syndrome karena saya tidak ambisius. Yang penting, ketika saya ditempatkan harus mampu dan bertanggung jawab. Tetapi tidak terlalu ngoyo. (http://www.balipost.co.id/Balipostcetak/2003/4/20/po1.html)

* Pewawancara: Asti Musman (Bali Post)

Leave a comment

No comments yet.

Comments RSS TrackBack Identifier URI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s